Menjadi Anak Gaul Tangerang (Agata)

Menjadi Anak Gaul Tangerang (Agata)

It has been a while since the last time I wrote here! Nah, kali ini gue mau cerita tentang kunjungan singkat gue ke rumah Sasya di Teluknaga, Tangerang. Sebenernya ini adalah kunjungan gue yang kedua – setelah bukber dulu (read more here https://milamutsliah.wordpress.com/2016/06/11/reuniting-with-eed12a/). Gue emang udah niat mau nginep di rumah Sasya karena mau puas main dengan si Azmi, bayi bulat itu. Tapi ya masih jadi wacana sampai akhirnya terealisasi hari Kamis lalu.

Image result for teluknaga boulevard
Titik patokan rumah Sasya, bukan boulevardnya, tapi di gang sebelahnya, Gang Ambon (Sumber: Google)

Gue ke kampus Kamis pagi dengan niat mau ujian, tapi ya begitu, jadinya malah batal which was fine for me hehe. Setelah itu, gue dan Sasya berangkat menuju Stasiun Pondok Ranji terus naik kereta deh. Nah, kita beberapa kali transit untuk naik kereta yang berbeda. Buat gue yang jarang naik kereta, petualangan transit bala-bala itu cukup seru untuk dilakukan. Total perjalanan sendiri memakan waktu hampir dua jam. Kita juga gak dapet duduk pas di kereta, jadilah kaki pegel, perut laper, mata sepet.

Syukur banger hari itu cuaca cerah. Gue dan Sasya tiba di Stasiun Tangerang sekitar pukul 1.30, sesampainya disana, kita langsung dijemput oleh keluarganya Sasya dan juga Sang Kekasih, Wendi. Sesuai skenario di kepala gue, gue menyalami Mamah dan Papah di mobil berharap bisa mencairkan suasana agar gak terlalu awkward. Untungnya, Mamah dan Papah semangat cerita, khususnya tentang perjalanan haji mereka baru-baru ini. Seru banget denger ceritanya juga cerita tentang rencana mereka bertolak ke Thailand pada bulan November nanti.

Gue, Sasya, dan Wendi, hanya fokus mendengar, menanggapi sesekali, dan kembali diam. Kita berhenti dulu di warung makan Jawa namanya Parmi untuk santap siang. Makanannya wenak! Gue makan opor ayam, gudeg, keretek, dan bakwan udang yang lebar banger. Setelah kenyang, kita pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah Sasya, gue disambut oleh si gembil, Azmi. Lucu banget! Gue langsung gendong dia dan menyalami orang rumah. Sore itu dihabiskan dengan leyeh-leyeh di ruang tamu.

Dari sekian pengalaman nginep gue, nginep di rumah Sasya juga membuat gue paham bagaimana kegiatan sehari-hari keluarganya, membuat gue menjadi anggota keluarga meski sebentar. Gue pun disuguhi berbagai makanan dan cemilan seperti kuaci yang dinimkati bersama Mamah sambil nonton TV. Tak lupa, gue juga disuguhi air zam zam yang berkah itu. Interaksi dengan Yayu dan Amel juga cukup terjalin hangat selama di sana.

Berfoto

 

 

Malamnya, gue diajak Sasya untuk eksplorasi Tangerang. Karena gue males jadi nyamuk diantara Sasya dan Wendi, akhirnya kita memutuskan untuk mengajak Amel dan Kiki. Kita berangkat abis magrib dan mulailah petualangan malam kita. Niat awal kita waktu itu adalah untuk makan di sebuah tempat makan bernama up-normal tapi itu rame banget. Akhirnya, kita cari lagi sampe ketemu sebuah food court gitu. Kita memesan sushi dan bento dan tak lupa berfoto-foto. Ok, malam itu gue dapet kelompok main baru.

Menunggu pesanan kami

Setelah makan, kita pun melanjutkan eksplorasi kita ke festival qur’an di masjid kota. Masjidnya besar dan megah banget. Seperti festival pada umumnya, disana ada banyak tenda dagangan. Kita melihat-lihat sekitaran masjid dan juga masuk ke dalamnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s