Tengah Malam

Tengah Malam

Ada satu kebiasaan yang sampe sekarang masih sering gue lakukan – kebangun tengah malem. Dan, ketika momen ini terjadi, gue seketika langsung memikirkan hidup dan betapa cepat momen setelah momen berlalu.

Gue kaya gitu emang – pemikir, puitis, pelamun, pengembara. Dan tengah malam menjadi waktu terbaik untuk menjadi itu semua. Untuk sibuk dengan pikiran gue sendiri.

Tengah malam, seketika gue ingat bahwa waktu berputar begitu cepat. Seketika gue rindu masa sekolah – yang ketika gue bangun malam – maka PR menjadi hal yang muncul pertama. Atau masa awal kuliah – yang ketika gue bangun malam – maka Internetan yang gue lakukan pertama.

Orang mungkin pernah mencoba mendefiniskan hidup. Semua orang berhak punya definisinya masing-masing. Gue mendefinisikannya sebagai kumpulan momen – dari mulai pengalaman, perasaan, bahkan makanan dan lagu yang kita dengar – momen – hidup. Ya, hidup itu adalah kumpulan momen. Dan selalu ada orang-orang terkasih di setiap momennya.

Waktu begitu cepat berjalan – kita sering mengukurnya lewat pendidikan. Betapa beberapa tahun lagu gue masih pake seragam putih abu, berangkat ke sekolah bersama teman, dan sibuk menjawab sms tentang PR di waktu malam. Tahun dimana play list gue masih love is you nya ten2five. Tahun dimana gue diem-diem suka sama temen sekelas. Dan tahun dimana gue galau karena UN semakin dekat. Momen. Sekali lagi.

Hidup adalah kumpulan momen – tiap tahun membawa momennya sendiri, membawa risau dan sedih, juga senang dan sukses. Tengah malam membuat gue mengingat itu semua hanya dengan satu kejap mata, satu momen akan muncul setelah lainnya, membuat satu keping kenangan yang akhirnya terekam jelas dalam benak.

Tiap tahun membawa orang-orangnya tersendiri. Dulu, di jaman putih abu, gue habiskan tengah malam gue dengan kegalauan mau pisah dengan teman sekelas. Mau UN dan lulus bareng dan bagaimana nantinya di kampus gue akan bertahan tanpa mereka. Sialan. Momen itu sialan. Dari tahun dimana hp nokia terasa mewah hingga tahun dimana pin bb menjadi komoditi andalan para akil balig. Sialan.

Waktu begitu cepat berputar. Siapa sangka sekarang gue bisa lebih dari bertahan di kampus tanpa temen sekelas gue jaman sma dulu. Siapa sangka sekarang keluarga utama gue adalah temen sekelas gue di kampus. Siapa sangka sekarang gue mulai takut akan lost contact dengan mereka suatu hari nanti. Ingat kan? Setiap tahun selalu membawa kerisauannya sendiri.

Waktu begitu cepat berlalu – dari makanan favorit, lagu, orang, hingga kegiatan. Siapa mengira gue bakal kecanduan nulis kaya gini atau seperti ber-Tuhan dengan bahasa Inggris. Gue pun gak mengira. Semuanya terjadi tanpa gue sadari. Terjadi begitu cepat.

Tengah malam juga mengingatkan gue pada orang-orang yang sempat menjadi permata hati. Ada beberapa – yang bisa mengisi tengah malam gue dengan mukanya atau dengan omongannya yang otomatis terngiang di kepala. Tengah malam juga menghadirkan kerinduan yang gue pikir gak ada disana – di benak, di hati – yang ternyata ada dan begitu besar. Kerinduan ingin kembali bercerita dan membuat satu sama lain tertawa.

Flashback – mereka akan bilang demikian. Dan gue jago dalam hal itu – memutar kembali waktu. Gue mungkin udah lupa sama teori pengajaran yang gue pelajari di semester 4 lalu tapi gue masih ingat betul hari pertama gue masuk kampus – begitu jelas – sampai ke pakaian yang gue kenakan hari itu. Begitu jelas hingga gue pengen semuanya terulang lagi.

Ada satu hal yang lucu dalam hidup – semuanya memakai pola. Mengapa pola? Karena begitu adanya – kenal seseorang – membuat kenangan bersama – timbul jarak – mulai membuat alasan secara sadar atau tidak – perlahan terpisah – menerima jarak dengan cara masing-masing – dan pada akhirnya, berkenalan dengan orang lain lagi, orang baru – dst. Dan pola itu akan terus berulang. Sadar atau tidak, pola ini yang selalu kita buat dari tahun-tahun sebelumnya.

Hidup, mungkin juga, tentang bagaimana kita membuat kenangan. Gue selalu memungkiri usia gue yang sekarang sudah masuk kategori dewasa. Bukan gue gak suka menjadi dewasa, hanya saja rasanya gue belum siap beranjak dari kenyamanan dan kebodohan diri di usia belasan. Dari pemakluman dan penerimaan orang sekitar. Sekarang, usia 21, tanggung jawab jelas terlihat disana. Suka tidak suka. Sialan. Baru kemarin rasanya temen sekelas gue dateng dan kita sama-sama meniup lilin dengan angka 17. Sialan.

Tengah malam menggali lagi semua ingatan gue. Jaman ospek kuliah lah, jaman naksir kakak kelas pas sma lah, jaman gue baru nemuiin minat gue lah, jaman dimana gue kerja keras untuk ada di posisi gue sekarang, dan jaman dimana gue terlalu sibuk bahagia hingga lupa cara menangis bagaimana.

Sudah banyak momen terlewati. Gue berubah, rumah gue berubah, ortu gue berubah, temen gue berubah, selera gue berubah, cita-cita gue berubah. Seiiring dengan berjalannya waktu, manusia memang selalu aktif menciptakan momen. Kita mungkin tidak sadar telah menciptakannya, tapi beberapa tahun lagi, kita bakal ketawa geli ketika menceritakannya.

Momen, apapun itu, rasanya sakral. Momen yang membuat hidup layak disebut hidup. Momen juga alasan mengapa gue bangun tengah malam dan ingin menulis ini. Sederhana, karena gue mengingat momen dan punya harapan ingin semuanya terulang lagi. Sialan.

Apapun itu, tengah malam selalu punya sisi magis buat gue. Waktu dimana pikiran dan hati gue sibuk merekam ulang masa lampau dan menerka masa depan. Namun, di tengah-tengah itu, tengah malam juga membuat gue bersyukur, bukan lah karena sesuatu yang rumit, tapi bersyukur untuk momen ini, momen tengah malam ini. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s