Lucu, tapi manusiawi

Lucu, tapi manusiawi

Postingan ini kurang lebih akan tentang gue dan perasaan gue malem ini, tentang gue yang dengan rajinnya bertanya-tanya akan perasaan gue beberapa tahun lalu.

Gue kenal dia, seorang laki-laki yang cukup hebat, dari sahabat gue. Sederhana saja motif sahabat gue itu, dia laki-laki pintar yang sedang belajar di London, Inggris. Wajar saja sahabat gue memperkenalkan gue ke dia meski sebatas akun twitter saja.

Mulai dari following twitter dia, perlahan gue mulai akrab dengan pribadinya (secara dunia maya pastinya). Gue mulai paham dengan pemikiran juga semangat juangnya; mulai paham dengan bagaimana dia berpikir juga mengambil tindakan; juga mulai semakin kagum dan tertarik untuk mengenal lebih jauh. Ini semua terjadi karena aktifitas yang gue sebut intensive stalking.

Singkat cerita, gue ikuti perkembangan hidup dia – ini bukan semata-mata karena gue adalah fans garis keras, tapi lebih karena dia yang memang cukup menginspirasi gue. Gue ikuti kehidupan dia sampai ke berita yang (maaf jika berlebihan) mengguncang hati dan pikiran gue – pernikahan.

Indah jika pernikahan yang dimaksud adalah dengan gue. Tapi tentu ini tidak logis mengingat gue yang hanya satu kali pernah tatap muka dengannya, dan dia yang mungkin tidak pernah sadar ada gadis sejenis gue. Lucu, tapi manusiawi.

Sesuai dengan judul postingan ini, lucu memang jika dipikir ulang, tentang perasaan gue padanya. Perasaan yang entah kusebut apa – dari mulai kagum, naksir, suka, cinta, atau kombinasi semuanya, dan jangan lupa kesemsem.

Lucu karena gue bisa jatuh hati ke orang yang bahkan tidak pernah gue temui juga tidak pernah gue bicara dengannya. Lucu karena gue bisa begitu sabar mengejar, berusaha kirim e-mail hanya untuk sekadar dekat atau membuat diri ini tidak begitu asing baginya. Lucu.

Melihat kebelakang, tergelitik sendiri gue karenya. Kalau sudah kagum atau suka, manusia memang bisa aneh berbagai rupa. Aneh karena gue dengan serius sekali menanggapi perasaan gue ke dia. Tapi, gue bersyukur, perasaan gue berujung. Jangan tanya berujung apa ya. Please

Berita pernikahan – dia menikah dengan wanita pilihannya. Ah, ini kaya di sinetron aja. Jangan tanya gue seperti apa, gue udah (maaf jika berlebihan) hancur lebur kali, porak-poranda. Gue merasa langit mendung untuk beberapa hari.

Gue sering ber-argumen dengan batin gue sendiri saat itu, bertanya pada diri sendiri apakah kegalauan itu masuk akal mengingat dia hanya orang asing yang kontribusinya gak terlalu signifikan di hidup gue, dia yang baru gue kenal beberapa bulan terakhir dengan alih-alih mau tau informasi tentang belajar di UK.

Batin gue meronta, dia punya beberapa suara saat itu. Pada akhirnya, gue memihak pada suara yang bilang, “Ini masuk akal kok. Perasaan gak bisa diatur mau kaya apa. Itu terjadi apa adanya.” Kemudian, batin gue mulai ber-argumen lagi, dan kali ini membahas tentang gue yang akhirnya sakit hati dan kecewa dengan harapan yang gue ciptakan sendiri. Suara-suara kembali mendominasi, gue abaikan saat itu, tapi malam ini gue dapat kesimpulannya,

Karena adanya kemungkinan. Entah itu sama dengan harapan atau bukan. Kemungkinan untuk bisa bertemu atau kenal lebih jauh, kemungkinan bahwa mungkin ada jalan di depan entah bagaimana bentuknya. Kemungkinan yang membuat seseorang melangkah perlahan.

Malam ini pun sama seperti malam-malam paska gue udh tau kabar pernikahannya itu. Perlahan gue mulai tau banyak tentang belahan hatinya dia, beruntung dia, pikir gue beberapa kali. Gue pelan-pelan kagum juga dengan cewenya. Beberapa kali dibilang “pura-pura” dan belum move on sama temen gue juga karena ini. Bodo amat, ketus gue menghadapi itu. Seiring berjalannya waktu, gue mulai menerima kabar itu sampai pada titik dimana gue dengan senang hati bilang kalau gue mendukung.

Malam ini gue kembali melihat postingan terbaru si cewek yang akan berbahagia dengan si cowok, si dia versi gue dulu. Temen-temen gue masih sering berpikir kalau gue akan sakit hati tiap liat apapun yang berkaitan dengan si cowok sekarang ini, paska kabar itu. Awalnya memang iya, sampai pada titik bahwa apapun tidak berpengaruh lagi. Gue sangat profesional dalam segala sisi, sekalipun dalam mencintai – dengan dia menikah tidak serta merta membuat gue membenci dan berhenti mengagumi. Gue akan selalu mengagumi pemikirannya yang cukup sering seirama dengan gue, juga dengan intensi mulia dia untuk Indonesia yang juga suatu hari pengen gue lakukan. Dia, bagaimanapun juga, cukup punya andil dalam membentuk gue yang sekarang ini. Dan gue bersyukur akan hal itu.

Melihat postingan apapun tentang kabar bahagia dia tidak lagi membuat gue sedih, marah, atau kecewa, juga tidak membuat gue meronta ingin cepat dapat penggantinya. Ah, hidup tidak melulu soal ini, pikir gue mantap. Malam ini gue sadar bahwa sakit hati juga kecewa bisa sembuh seiring waktu, lagipula dalam kasus gue yang memang tidak dekat dengan dia, moving on is so easy peasy. Perlu waktu memang.

Kesimpulan gue pun akhirnya bahwa gue sebenarnya memang tidak begitu mencintainya, mungkin hanya kekaguman yang begitu ketara. Gue juga berpikir tentang perasaan cinta itu sendiri, membuat gue meredefinisi apa itu cinta dan apa yang gue inginkan dari hal abstrak itu. Ini membuat gue jatuh pada kata kenyamanan dan ketersalingan.

Sederhana saja, cinta harus membuat gue nyaman dengan diri gue sendiri, nyaman bersama dengan dia (merujuk ke lelaki lain di masa depan) juga, nyaman menunjukkan apa yang gue suka dan gak suka. Nyaman dan bangga akan kebiasaan-kebiasaan gue. Hal ini sangat absen di cowo itu, jangankan nyaman kan kenal deket aja enggak, toh. Lucu memang.

Kata kedua adalah ketersalingan , agak susah ya? Ini gue yang asal pake beberapa menit yang lalu. Sederhananya sih saling. Ini yang gue inginkan dari cinta – adanya rasa saling cinta yang sama, rasa ingin memiliki, rasa ingin berjuang, rasa ingin menjadikan satu sama lain rumah. Dengan si cowok, sungguh tidak ada elemen saling ini. Pedih memang karena gue yang mencintainya sendiri, bahkan tanpa adanya atensi. Gue menyimpulkan kalau segala sesuatu yang tidak berbalas itu bakal gak enak, makanya harus bersama, harus ada saling, harus sama-sama mempunyai perasaan dan romansa itu.

Dua kata ini – nyaman dan saling, yang bikin gue sadar kalau apa yang gue rasa ke si cowok bukanlah cinta, juga yang bikin gue bisa melangkah dengan lumayan cepat. Ketiadaan rasa nyaman dan saling diantara gue dan si cowok yang bikin perasaan gue gak akan bertahan lama, akan kandas seiring waktu, akan padam seiring dia memulai hidup baru.

Dan gue kini bisa dengan santai juga tulus bilang ke cowok untuk berbahagia. Dan please jangan mikir kalo gue masih sedih sendiri dalam hati karena gue udah bener-bener semangat untuk menyongsong hari, tanpa dia di relung pikiran istimewa gue. Dan, inilah akhir dari cerita yang lucu tapi manusiawi versi gue, tentang perasaan yang bisa menipu di awal, juga tentang ilusi indah yang dulu gue ciptakan sendiri. Kini, mari kita mulai dengan sesuatu yang baru, dengan dia yang semoga mempunyai dua kata di atas. Entah cepat atau lambat, tapi tidak ada salahnya untuk gue semogakan.

Dan jangan tanya bagaimana sikap gue ke si cowok setelah ini, karena sungguh semuanya akan baik dan normal saja. Gue, gadis profesional luar biasa, satu fitur dari diri gue yang cukup gue banggakan. Gue masih sibuk me-retweet tweetnya dia yang memang seirama dengan gue, juga masih mendukung gerakan yang dia pimpin dengan begitu semangat. Singkatnya, gue masih menjadi fans nya, tetapi tidak segaris keras dulu hehe.

Baiklah, sekian postingan yang InsyaAllah berguna untuk diri gue sendiri haha —

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s