Kepanitiaan dan Kenangan

Kepanitiaan dan Kenangan

Hari Minggu, hari yang tepat untuk leyeh-leyeh sebelum balik lagi ke kegiatan rutin di minggu selanjutnya. Minggu pagi ini akan gue dedikasikan untuk menulis, ya menulis lagi, setelah sekian lama tidak melakukannya.

Ada banyak yang ingin gue sampaikan disini, tapi gue akan usahaiin utk menyampaikan poin-poin penting nan kerennya saja. Dimulai dari gue yang ingin jd panitia kemudian sampai gue yang rindu untuk bisa jadi panitia lagi. Mari kita mulai!

Ragu dan takut, dua kata ini yang ada di benak gue ketika gue memutuskan utk mendaftar jd panitia opak – orientasi pengenalan akademik, di kampus gue sendiri. Pendaftaran yg dibuka utk umum ini bs diikuti oleh seluruh mahasiswa/i kampus gue dengan melengkapi beberapa persyaratan. Ragu, ragu, ragu, gue memutuskan utk nekat. Gue daftar – gue kirim semua dokumen yang diperlukan. Singkat cerita, gue dpt sms yg berisi undangan utk datang ke rapat perdana, membahas tupoksi (yang baru gue tau artinya setelah melakukan googling), kepanitiaan per divisi, dan wawancara panitia. Ragu, ragu, ragu, gue dengan sengaja gak dateng ke rapat perdana itu. Ada dua sisi di dalam hati gue antara lanjut dan tidak, gue memutuskan utk tidak lanjut. Gue pun kembali mendapat sms berisi info utk hadir pada rapat selanjutnya, gue pun juga sudah secara resmi dipilih utk jd panitia di divisi kesehatan. Gue kaget, tugas gue bakal kaya apa ya nanti?

Tidak bisa mengelak, Bela, selaku koor divisi kesehatan terus memborbardir gue dengan pertanyaan, “Bisa dateng rapat kan kak?” alhasil, gue pun ikut. Niat gue utk tidak melanjutkan kepanitiaan pun gagal, Allah malah menugaskan gue dengan tanggung jawab penuh. Bela, ternyata, tidak bs sepenuhnya memegang kendali selama rapat pra-opak sampai opak sekalipun. Gue pun memegang kendali penuh ini sampai akhir acara.

Rapat demi rapat, persiapan demi persiapan, teman baru demi teman baru, semuanya terasa begitu cepat dan mengalir saja. Keyakinan gue, Allah selalu punya cara utk membuat kita belajar. Ini cara-Nya yang akan selalu gue syukuri. Dari rapat ke rapat, gue banyak belajar. Perlahan tp pasti, gue makin jago dalam setiap pertemuan, gue bisa berhubungan dengan banyak pihak yang sebelumnya tidak pernah kenal, gue juga makin paham bagaimana sebuah kepanitiaan bekerja. Ini semua, benar adanya, tidak akan gue temukan di ruang kelas.

Dari rapat pertama dimana gue masih mengekor Bela dan gue ga tau apa-apa sampai ke hari akhir opak dimana gue paham betul divisi yang gue pegang di luar kepala. Gue takjub, sungguh banyak yg bs dipelajari asalkan kita niat.

Banyak hal yang terjadi, banyak perubahan selama kurun waktu lima hari opak, banyak dilema dan drama berkecamuk di dada, semua ini sebenarnya bentuk pemantapan niat dan tanggung jawab. Totalitas juga, kata banyak orang.

Kepanitiaan ini tentang gue yang pulang sore sampe malem karena harus ikut rapat, tentang gue yang harus naik ojek karena kosan temen gue jauh, tentang gue yang dikit2 rindu temen kelasan, tentang gue yang awalnya ragu sampe pengen mundur ke gue yang pada akhirnya yakin kalo gue lebih dari mampu asalkan gue mau.

Kepanitiaan ini tentang gue yang harus meninggalkan rumah nyaman gue selama lima hari, tentang gue yang awalnya gak betah di kosan temen tp pada akhirnya nyaman dan berat utk pulang, tentang gue yang makan malem cuma roti selama beberapa hari kemarin, juga tentang gue yang diem2 merasa bangga pada diri gue sendiri.

Kepanitiaan ini tentang gue yang buta kampus dan organisasi, perlahan mulai mengenal seluk beluk dan mulai mencintai apa yang selama ini gue abaikan, tentang gue yang mulai bisa bekerja sama dengan etika tertentu, tentang gue yang mulai tau tugas2 yang tiap divisi pegang, juga tentang gue yang mulai bisa bekerja dibawah tekanan, dan melatih kreatifitas gue sendiri.

Kepanitiaan ini juga tentang dapet keluarga baru, rumah baru, pengalaman baru, dan tantangan baru. Tentang gue yang selama ini bekerja begitu nyamannya, tentang gue sbg panitia yang gak boleh malu2 dan harus berani utk melakukan apapun disaat perlu.

Kepanitiaan ini juga tentang aktifitas gue selama lima hari yang penuh dengan kepadatan tapi selalu gue sikapi dengan kesyukuran, tentang gue yang selalu ingin mengeluh tapi juga berusaha gue sikapi dengan semangat juang. Semua ini, berkat kepanitiaan.

Minggu depan adalah minggu dimana semuanya kembali ke awal, ke awal sebelum kepanitiaan ini ada, ke awal sebelum gue dengan nekat dan modal percaya diri ikut mendaftar menjadi panitia. Minggu depan adalah minggu dimana gue akan bersama teman2 yg gue rindukan, tp juga akan diam2 merindukan teman2 gue yang lain. Minggu depan, semuanya akan terasa begitu normal.

Sedikit drama ya disini, tapi itulah yang gue rasa. Sebagai orang yang benar2 buta pengalaman organisasi, mengikuti kepanitiaan ini merupakan salah satu pembelajaran seumur hidup yang gue bakal syukuri tiap harinya. Ini, bukan melulu soal dapet temen baru, atau soal terdengar keren karena menjadi panitia, ini lebih kepada pengabdian dan pembelajaran. Dua proses ini yang secara otomatis membawa gue kepada temen2 baru dan juga pengalaman baru.

Gue bakal kangen pulang malem karena evaluasi, juga dengan ngekos, juga dengan bolak balik ngecek posko utk divisi gue. Gue bakal kangen dengan muka2 yang biasa gue temuiin di sekret, juga dengan cara kita bekerja sama, juga dengan cara kita sama sama menyukseskan opak tahun ini.

Entah apakah gue bakal bisa mengikuti organisasi lagi kedepannya, yang pasti, gue akan selalu semangat dengan berbagai kesempatan yang ada di depan mata, bakal dengan pasrah menyerahkan apakan ini baik atau tidak ke Allah sepenuhnya. Kepanitiaan ini pun diawali dengan keraguan dan dengan keengganan, tapi Allah punya cara, gue bisa menyelesaikannya sampai selesai.

Keluar dari zona nyaman, betul adanya, perlu sekali kita lakukan. Zona nyaman tidak memberi kita apapun besar, tidak menjadikan kita besar juga. Zona nyaman, temuilah hanya di hari Minggu saja, selain itu, bekerjalah di zona yang menumbuhkan. Keluar dari zona nyaman, apakah gue menyesal, kenapa tidak melakukan ini sejak lama? Mengikuti kepanitiaan spt ini? Kenapa begitu lama tinggal di zona nyaman gue sendiri? Tidak, gue tidak menyesal. Gue percaya, Allah punya cara dan waktu sendiri utk membuat kita belajar, utk membantu kita tumbuh, ini semua bisa cepat atau lambat, bisa di awal atau di akhir, bisa di kesempatan pertama atau di kesempatan yang lain. Proses ini, Allah yang bantu, semangat saja. Tugas kita adalah untuk selalu berusaha memperbaiki diri, bekerja dengan intensi sebaik mungkin, dan selalu, meminta Dia untuk membantu.

Kepanitiaan ini pastinya istimewa sekali utk gue yang baru pertama kali ikut bergabung, entah, semoga akan ada lebih banyak kesempatan utk bisa turun dan merasakan langsung pembelajaran spt ini. Yang jelas, tak apa jika kita memulai segala sesuatu dengan ragu, tak apa jika kita tdk mengerti di awal, tak apa jika kita merasa ini terlalu berat, semua ini tak apa selama kita tidak berhenti, selama kita terus melangkah dan menjalani proses yang ada, dan terus bertanggung jawab sampai proses selesai. InsyaAllah semuanya akan terasa baik-baik saja dan menyenangkan.

image
Name card yang dipake selama opak. Identitas panitia, hal kecil yang membuat bangga.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s