Dia rindu.

Dia rindu.

Coba kau tanya dinding kamar, atau kertas berserakan diatas meja, atau bunyi derum kipas angin di sudut ruangan, mereka semua akan menjawab – dia rindu.

Coba kau tanya dinding kamar di waktu malam, di waktu semuanya terlelap, di waktu semuanya sibuk bermimpi – dia rindu.

Coba kau tanya keypad hape, atau lihat lagu apa yang sedang diputar, atau lihat apakah ia melamun atau tidak – dia rindu.

Coba kau tanya apa yang ia tulis di waktu malam, di jam-jam yang hanya ramai oleh dengkuran orang, di jam-jam yang ketika kesunyian malam terasa syahdu dan menenangkan – dia rindu.

Coba kau tanya dinding kamar – betapa dia merindu setiap malam, merindu orang yang sama, merindu dengan alasan yang sama.

Coba kau tanya dinding kamar – betapa dia merindu setiap malam, merindu diam-diam dalam malam, merindu yang hanya dia dan Tuhan yang tahu, merindu yang akal sehat tak akan bisa jelaskan.

Coba kau tanya dinding kamar – betapa dia merindu setiap malam, merindu yang jauh, yang entah dimana, yang tak pasti.

Coba kau tanya dinding kamar – betapa dia merindu setiap malam, merindu kemudian menulis ini, berharap ini bisa menjadi cara menyampaikan rindunya, atau menjadi cara berdoa.

Coba kau tanya dinding kamar – betapa rasa rindu bisa begitu menyakitkan di waktu malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s