Sunset.

Sunset.

Ah, betapa indahnya melihat matahari terbenam – sama indahnya seperti dirimu.
Tentang matahari terbenam, sungguh, karenamu aku bisa menulis ini —-
Sore hari selalu tentang rasa lelah dan penat sehabis beraktivitas seharian, tentang macetnya jalan, tentang padatnya angkutan umum, juga tentang aku yang diam-diam merindu.
Sore hari selalu ditutup dengan sunset, matahari terbenam, dengan harapan akan hari esok yang lebih baik, dengan harapan bertemu orang rumah yang menunggu, juga dengan harapan bertemu dirimu.
Sore hari, dengan langitnya yang berwarna oranye, dengan matahari yang perlahan bersembuyi dan memberikan kesempatan kepada bulan untuk “memamerkan” sinarnya, juga dengan aku yang diam-diam berdoa.
Sore hari, dengan langitnya yang berwarna oranye, yang terhampar luas, seolah memberi pesan bahwa kau juga ada disana, entah di belahan bumi mana, juga menikmati hal yang sama, dan juga berdoa.
Sore hari, dengan sunset yang muncul perlahan menampilkan pesonanya, dengan pesona yang tak banyak orang nikmati karena kesibukan di jalan, dengan pesona yang membuat rindu semakin membuncah.
Sore hari, dengan sunset yang diam-diam menawarkan keindahan, yang diam-diam memberi isyarat untuk pulang ke rumah setelah seharian bekerja, memberi isyarat untuk bersama mereka yang dicinta.
Sore hari, dengan sunset yang diam-diam menawarkan keindahan, mengingatkanku tentang dia yang selalu ingin ku jumpai kelak ketika pulang. Dia yang menjadi keindahan dibalik sunset setiap sore, dan dia yang menjadi semangat untuk esok hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s