Malam.

Malam.

Malam selalu membuatku mengada-ada – menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, berharap agar sesuatu yang sudah lewat dapat terjadi kembali, dan berdoa agar sesuatu yang diingini dapat terjadi secepatnya.

Malam selalu membuatku berkhayal – berkhayal tentang apakah sebuah pertemuan berdasarkan takdir itu ada, tentang apakah pertemuan bisa berujung ke sebuah kebahagiaan dan bukan perpisahan, tentang apakah sebuah pertemuan sederhana dapat begitu berarti bagi dua orang insan.

Malam selalu membuatku menjadi diriku yang lain – diriku yang lebih feminine, yang manis, yang bisa kau bilang sebagai romantis.

Malam selalu membuatku percaya bahwa harapan itu ada, bahwa mimpi itu memang harus diperjuangkan, dan bahwa kedua insan dalam benakku memang belum dapat bersatu sekarang.

Malam selalu membuat segalanya kembali – tentang pertemuan sederhana yang mungkin bisa berakhir bahagia; tentang pertemuan sederhana yang mungkin ketika terjadi akan membuat si penulis luar biasa bahagia.

Dan malam selalu membuat segalanya menjadi penuh tanya – tentang ia dibelahan bumi lain; tentang melanjutkan hidup; tentang menggapai cita; tentang mengharap; tentang dua insan yang entah bagaimana, mungkin bisa bersatu suatu hari nanti; tentang ia yang percaya pada cinta sejati.

Malam selalu membuat ia berpikir juga membuatnya diam, membuat ia menyadari bahwa waktu terasa begitu cepat berlalu, menyadari bahwa ada yang selalu ia pikirkan siang dan malam, dan menyadari bahwa mungkin, di suatu malam, ia akan bersatu dengannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s