Berteman dengan kesendirian.

Berteman dengan kesendirian.

Gadis itu sudah terbiasa dengan kesendirian, dengan malam sepi tanpa teman, dengan malam yang ia habiskan dengan buku dan musik.

Gadis itu sudah terbiasa dengan kesendirian – dengan Ibu yang sudah terlelap karena lelah, dengan Ayah yang beraktifitas di luar.

Gadis itu sudah terbiasa dengan malam yang ia habiskan dengan berkhayal – dengan harapan yang secara tak sadar hadir, dengan impian yang merayap kembali.

Gadis itu sudah terbiasa dengan dirinya sebagai teman, sebagai pendengar, dan sebagai pelipur lara.

Gadis itu sudah terbiasa dengan malam-malam yang terasa sunyi, yang seperti datang untuk membawa muram dan sedih.

Gadis itu tidak pernah mengeluh. Dia menyukai kesendirian itu, tak keberatan dengan kesendirian tiap malam, tak sungkan membaca buku atau mendengar musik di kamar.

Gadis itu sudah lama berteman dengan kesendirian. Ia sudah sangat nyaman dengannya, sudah tahu bagaimana menghibur dirinya sendiri, sudah tahu bagaimana mengubah sepi menjadi seni – seperti menulis ini contohnya.

Gadis itu sudah lama menyukai kesendirian. Ia tumbuh dengan itu, ia menjadi kuat dan mandiri karena itu, ia menjadi dirinya karena itu.

Gadis itu tak pernah mengeluh. Baginya, kesendirian bukanlah depresi yang menyedihkan. Kesendirian adalah sebuah siatuasi yang sering terjadi yang semua individu pernah merasakannya.

Gadis itu sudah lama berteman dengan kesendirian. Karena itu, ia menyukai waktu ketika tertawa lebar bersama teman-teman, ketika hari terasa panjang, ketika obrolan seperti tak ada habisnya.

Tapi, gadis itu juga sangat menyukai kesendirian – ia akan diam-diam ke kamar lalu membaca, ia akan dengan senang duduk di kamar dan mendengarkan musik. Ia dengan imajinasinya sendiri, ia dengan kesendirian yang kadang ia nikmati dan bahkan ia cari.

Gadis itu tak pernah mengeluh. Kesendirian adalah teman yang baik baginya, dan ia sudah sangat tahu bagaimana “bargaul” dengannya.

Tapi, malam tetaplah malam
Cerita cinta tetaplah cerita cinta yang membuat gadis itu melamun lama
Akhir bahagia tetaplah akhir bahagia yang membuat gadis itu yakin padanya.
Gadis itu menyukai cerita cinta. Ia menyukai cerita cinta dengan berbagai macam versi – baik itu akhir bahagia seperti menikah, bertemu cinta pertama, berpacaran diam-diam, atau kehilangan sang pujaan.

Gadis itu menyukai cerita cinta – dimana sepasang muda-mudi menyukai satu sama lain apa adanya, dimana si lelaki memuja si perempuan meski dengan kecantikan seadanya, dimana mereka mencintai keunikan masing-masing, dimana mereka saling membalas perasaan dan memperjuangkannya.

Gadis itu percaya pada harapan dan mimpi – pada harapan akan laki-laki yang mencintai, pada kisah cinta yang tak kalah indah dengan yang ia temukan di novel, pada harapan akan hari esok yang lebih indah, dan pada harapan meskipun ia menyukai kesendirian, akan ada seseorang yang dengan senang hati membaginya.

Gadis itu percaya pada harapan yang kadang terwujud kadang tidak. Baginya, harapan adalah wujud hidup, wujud kepercayaan dan optimisme. Ia percaya pada harapan, pada keinginan dalam hati setiap malam, pada bisikan doa ia sampaikan kepadaNya.

Gadis itu percaya pada seseorang yang akan datang lalu tinggal, pada dia yang dengan senang hati datang dan menemani, pada dia yang dengan hadirnya, kesendirian berubah menjadi kebersamaan, dan pada dia yang dengan hadirnya, mengisi malam-malam si gadis dengan tawa, menjadikan malam terasa begitu singkat, dan menjadikan hari esok lebih cerah.

Gadis itu percaya pada harapan terwujud juga pada kekuatan dalam dirinya. Pada kebahagiaan yang ia ingin rengkuh, pada kemandirian di hari-hari penuh kesibukan, pada penghibur yang ia temukan dalam dirinya sendiri, juga pada sumber semangat yang selalu ada di dasar jiwanya.

Gadis itu sudah lama berteman dengan kesendirian, dengan sunyi merayap memasuki kamar, dengan bunyi keyboard ketika ia menulis.

Gadis itu sudah terbiasa dengan kesendirian dimana ia bisa begitu nyaman bahkan tertawa dengannya.

Tetapi, gadis itu tetap memiliki bayangan – bayangan melihat bintang bertebaran di langit malam bersama dia yang pada akhirnya ada dalam kehidupan nyata, dia yang tidak lagi bersembunyi dalam karya fiksi yang si gadis baca, dia yang mungkin menikmati kesendirian tetapi memilih kebersamaan bersama si gadis.

Si gadis tersenyum – malam memang begitu magis yang dengannya ia bisa merangkai ini, ia bisa “bermesraan” dengan tuts tuts keyboard untuk menulis ini.

Si gadis tersenyum seraya berkata pada dirinya sendiri,

kesendirian mengusikku begitu sering, datang dengan mudah di prediksi, menemani hampir setiap malam, menjadi saksi tulisan-tulisan sederhana yang aku tulis, dan menjadi sebab tulisan-tulisan ini hadir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s