Pelajaran di angkot

Pelajaran di angkot

Malam itu, sekitar jam setengah tujuh, saya seperti biasa naik angkot 02 jurusan Lenteng Agung. Setiap hari saya naik angkot dari rumah ke kampus saya, UIN Jakarta. Saya pulang sore hampir tiap hari dan selalu naik angkot ini. Seperti biasa, angkot 02 ini ngetem dulu sampai mobil penuh dengan penumpang. Tidak terlalu lama, akhirnya angkot ini pun penuh dengan orang-orang yang pulang kerja dan lain sebagainya.

Malam itu, ada dua ibu-ibu naik ke angkot, salah satu ibu itu ngomong gini, “Kesehatan itu penting banget ya bu. Bersyukur banget deh kalo sehat.” Mendengar kata-kata ibu ini, sontak saja saya sadar bahwa apa yang dikatakan ibu ini memang benar. Sangat benar bahkan. Ibu itu pun melanjutkan, “Kalau sudah sakit tuh ya gak enak, keluar duit terus, gak enak juga badannya.” Beberapa ibu atau penumpang yang lain termasuk saya ikut mendengarkan dan mengiyakan perkataan ibu tadi. Ternyata ibu itu habis menjenguk adiknya yang sedang sakit. Ia dirawat di RS Fatmawati. Berdasarkan pernyataan si ibu, biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan adiknya ini sudah banyak dan mahal. Salah satu dari penumpang ikut memberikan pendapat, seorang bapak-bapak sekitar umur 50an berkata, “Kalau sudah sakit memang membutuhkan biaya besar dan kalaupun sudah mati juga harus bayar. Biaya ambulance saja bisa satu juta. Sudah mati kok masih harus bayar.” Bapak itu tertawa getir menanggapi perkataannya sendiri. Benar memang di negara kita ini, penanganan kesehatan masih erat kaitannya dengan biaya yang mahal. Sebelum mendapatkan pengobatan, pasien diharuskan membayar terlebih dahulu dengan biaya yang bisa dibilang tidak murah. Saya langsung membayangkan orang-orang yang kurang mampu, kalau mereka sakit apa mereka bisa berobat?.

Si ibu itu kemudian menceritakan tentang adiknya yang mempunyai penyakit ginjal dan harus cuci darah. Saya gak bisa membayangkan deh betapa mahal dan sakitnya cuci darah itu. Saya langsung sadar, benar memang apa yang ibu itu katakan, “Kesehatan itu penting dan nikmat Allah yang paling besar.” Saya langsung bertekad untuk selalu bersyukur atas kesehatan yang Allah berikan kepada saya hingga saya menulis ini.

Tanpa kita sadari, setiap peristiwa, keadaan, perkataan, adalah pelajaran bagi kita. Pelajaran itu bisa saja kita dapatkan dari teman, keluarga, guru, atau bahkan dari orang yang tidak kita kenal. Pelajaran itu mungkin saja berasal dari masyarakat biasa yang meskipun mereka tidak berpendidikan tinggi tapi mampu memaknai kehidupan dengan baik. Pelajaran itu mungkin saja kita dapat di angkot, pasar, jalan raya, di mana saja. Pelajaran itu tidak melulu kita dapatkan dari sekolah atau rumah, tetapi juga dari lingkungan sekitar. Pelajaran itu mungkin saja kita dapatkan selama kita mau membuka hati, tidak hanya membuka mata kita, untuk melihat sekitar. Selama kita mau mendengar, bukan cuma berkata-kata. Selama kita mau memperhatikan, perduli, dan peka. Pelajaran dan kesadaran seperti ini sangat sulit kita dapat di era seperti ini, dimana kita selalu menghabiskan 24 jam waktu kita bersama gadget, Dimana jalan raya menjadi tempat yang begitu kejam karena panggunanya yang mementingkan kebutuhan atau hidupnya sendiri. Pelajaran yang sederhana namun besar maknanya apabila kita mencernanya dengan hati kita. Dan pelajaran yang membuat kita kembali menjadi manusia, menjadi mahluk ciptaan-Nya, dan melupakan sejenak segala ambisi di dunia.

N.M

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s