Cerpen

Cerpen

 

Kali ini lo pasti menang!

Oleh: Nur Millah Mutsliah

Siang  hari merupakan waktu nya untuk bersantai. Aku bersama ketujuh temanku sedang leyeh-leyeh di taman kampus, kami harus menunggu dua jam untuk mata kuliah selanjutnya . Bosan.

Salah satu temanku, Sasya, ia sedang sibuk membaca brosur perlombaan yang dibagikan kakak kelasku tadi pagi. Lomba tongue twister.  Aku sudah pernah ikut lomba itu tahun lalu dan pahitnya aku kalah saat itu. Aku malas kalau harus mengikutinya lagi.

“ Mil, lo harus ikut nih. Gue yakin kali ini lo pasti menang” ucap Sasya memecah keheningan diantara kami. Aku hanya mengangkat bahu dengan wajah datar.

“ Tongue twister itu kan gampang Mil, lo pasti bisa. Cuma kaya gini doang kok” sahut Umi sambil mencontohkan tongue twister dengan bibir seksi mirip Angelina Jolie.

Entahlah, aku tidak bersemangat mengikutinya.

Keesokan harinya, iseng saja aku mencoba berlatih tongue twister itu. Aku baca kata per kata dan anehnya tongue twister kali ini terasa begitu mudah aku hapalkan. Tapi, aku tetap tidak mau mengikuti lomba itu. Masih banyak temanku yang lain yang bisa mengikuti lomba itu.

“ Katanya gak mau ikut lomba, kok baca-baca kertas tongue twisternya “ Inten menggodaku dan tersenyum jahil ketika ia memasuki kelas.

“ Gue cuma baca-baca doang kok, iseng. Gue tetap gak mau ikut lomba” balasku ketus. Inten atau yang sering ku panggil Juminten itu memang temanku yang jahil.

Dosen pun datang, mengakhiri semua obrolan yang terjadi di kelas.

Selesai kuliah aku bergegas pulang. Teman-temanku mengajakku untuk mampir dulu ke sebuah rumah makan favorit kami yang mempunyai menu andalan ayam penyet. Biasanya aku selalu senang jika diajak kesana tapi kali ini aku memilih pulang duluan.

MOOORRRRNING!!

Aku menyambut pagi ini dengan senang hati. Hari ini adalah hari favoritku karena hanya ada dua mata kuliah. Dan yang membuatku lebih senang  adalah karena hari ini aku bisa menyaksikan teman-temanku berlomba. Aku selalu menjadi supporter setia untuk kelasku.

“ Eh lomba apa aja yang udah tampil?” tanyaku kepada Ika, temanku yang biasa aku panggil mbake karena dia adalah seorang Jawa tulen.

“ Baru story telling sama mading Mil” balas Ika dengan mata masih tertuju ke panggung tempat perlombaan berlangsung.

 

 

Lomba itu berlangsung seru, aku dan teman-temanku berteriak histeris mendukung perwakilan dari kelas kami. Seru sekali, suaraku saja hampir habis.

“ Dan lomba selanjutnya adalah tongue twister” MC baru saja mengumumkan lomba selanjutnya. Sontak, teman-temanku kompak melihat ke arahku. Senyum jahil mereka yang seolah-olah mengatakan “ Elo ya Mil yang bakalan maju? “ membuatku ingin keluar dari ruangan lomba.

Lomba tongue twister pun berjalan seru. Setiap peserta mempraktikan tongue twisternya dengan lancar. Ada yang gugup, antusias, ada juga yang terlalu cepat sampai kita tidak tahu apa yang ia ucapkan.

“ Dan peserta terakhir adalah Milla dari kelas 2A” suara MC bagai petir yang menyambar hatiku. AKU? Peserta lomba? Tidak mungkin!.

Teman-temanku menarikku naik keatas panggung. Aku mencoba melawan mereka tapi tetap saja aku kalah. Teman-temanku seperti atlit kelas berat kalau sudah menarikku seperti ini.

Dengan gugup dan sumpah serapah yang aku ucapkan untuk teman-temanku, aku menaiki panggung. Dengan tenang aku coba ucapkan tongue twister yang aku hapalkan dengan tidak sengaja beberapa hari lalu.

Where’s the peck of pickled peppers, peter piper picked” itulah kalimat terakhir yang aku katakan. Napasku ngos-ngosan bercampur antara nervous dan hapalan tongue twister yang cukup susah.

Dengan sempoyongan aku kembali ke kursi penonton. Teman-temanku heboh berteriak menyambut ku yang seperti pahlawan baru kembali dari medan perang.

Sekarang waktunya pengumuman pemenang. Teman-temanku terus bersorak meneriakan kelas kami dengan bangga, tidak mau kalah dengan pendukung kelas lain disamping kami.

“ Dan untuk lomba tongue twister pemenangnya adalah……….Milla dari kelas 2A” kali ini suara MC bagai petir yang menyambar, tetapi kali ini membuat hatiku melompat penuh kegirangan.

ALHAMDULILLAH, HOREEEE semua teriakan membahana memenuhi kupingku. Ah, teman-temanku yang gila ini senang bukan main.

Aku dengan senang berjalan menaiki panggung, merasa percaya dan tidak percaya. Kali ini, dengan hapalan yang setengah niat itu dan dengan ulah teman-teman ku, aku bisa memenangkan lomba ini. Aku pun senang bukan main ketika menerima hadiah. Dalam hati aku mengucapkan terima kasih kepada teman-teman gila ku itu. Sumpah serapah kini berubah menjadi kesyukuran. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s